Jumat, 03 Juli 2009

EKSPLOITASI BIRAHI




Oleh : ST




"Bangun sayang", bisikku dekat telinya yang berdaun indah itu. Bentuk telinganya indah sekali. Bersih dan sangat putih.


"Capek", katanya menja.


Ya tentu saja dia sangat kecapaian. Sejak masuk kamar villa ini jam 3 sore tadi, kami bergumul memuaskan nafsu birahi kami. Entah sudah berapa kali perempuan ini aku buat orgasme. Mungkin sudah sampai 6 kali. Sedangkan aku belum ngecret sekalipun. Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 7 malam. Meski tanpa AC kamar ini terasa dingin. Maklumlah villa ini terletak di daerah pegunungan. Sebuah tempat wisata yang sangat terkenal dengan sebuah danau yang cukup luas. Di pinggir danau ini banyak terdapat villa-vila dan penginapan. Di salah satu kamar villa onilah kami menginap.


Kontolku yang cukup besar dan panjang untuk ukuran Indonesia ini masih kaku menempel di perut perempuan dalam dekapanku ini. Ujungnya yang botak berwarna merah tua tepat berada di lubang pusarannya.


Rencananya kami akan menginap di sini 3 hari. Jumat sore baru kami cek out. Sejak bercinta pertama kali di kamar sebuah Hotel di senggigi Lombok Barat sana, ini kali keduanya kami lakukan disebuah villa di Bdgl Pulau B.


Untuk menyeret perempuan ini ke villa ini memang sulit. Bapaknya begitu galak, fanatik, kolot dan otoriter. Untung aku punya seorang kawan yang bekerja di Dinas Propinsi. Dengan akal-akalan aku suruh buatkan surat tugas buat perempuan ini untuk mengikuti workshop yang dilaksanakan di Bdgl ini.


Dayu begitu aku memanggilnya. Nama lengkapnya Ida Ayu SW. Umurnya baru 22 tahun. Masih sangat muda dibandingkan usiaku yang sudah 45 tahun. Dayu seumuran putraku yang pertama yang kini kuliah di sebuah PTS di kota Malang.


Dayu sendiri selalu memanggilku Bapak. Aku tidak protes dengan panggilan itu yang konotasinya ketuaan. Justru sebaliknya aku bangga banget. Betapa tidak? Lelaki setua aku berhasil menaklukkan gadis muda yang masih perawan (tapi sekarang sudah tidak perawan karena sudah kubobol di senggigi 3 minggu yang lalu. Baca kisahku yang berjudul : DAYU GADIS KESEPIAN).


Panggilan Bapak membuat gairah birahiku bangkit. Aku bangga, aku adalah lelaki penakluk. Aku mempecundangi sekian puluh anak-anak muda yang menginginkan cintanya Dayu. Seorang gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih mulus tak ada cacat sedikitpun. Rambutnya sebahu yang lebih sering diikat membentuk ekor kuda, sehinga lehernya yang jenjang putih mulus dan tengkuknya dihiasi bulu halus pendek indah sekali membuat beriahiku bergejolak.


Dia gadis yang sangat lembut, sopan santun penuh tata krama adat ketimuran. Sifat-sifat seperti inilah yang sangat kusukai. Bukan karena aku suka kesopanan, tapi sifat-sifat perempuan seperti itu sangat menantang jiwaku untuk menaklukkannya.


Aku tidak suka gadis jalang yang murahan dan gampang ditaklukkan. Aku benci gadis yang agresif yang dengan mudah menyerahkan tubuhnya untuk ditiduri. Bagiku gadis seperti itu tidak memiliki tantangan untuk ditaklukkan.


Gadis seperti Dayu ini kalau ku ibaratkan seperti gunung tinggi yang sulit di daki atau seperti dinding gunung yang terjal dan sangat sulit di daki. Namun sangat disukai para pendaki atau pemanjat tebing karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk di daki. Namun apabila berhasil menaklukkan dan sampai di puncak, disitulah letak kebanggaan mereka. Demikian pula halnya dengan aku.


Awal pendekatanku memang sulit apalagi usiaku yang sudah tua. Namun pengelamanku sebagai lelaki jalang dan bajingan, dengan berbagai trik tipu muslihat seperti seekor buaya yang ngintip kijang yang sedang minum air di kali. Aku si buaya darat tentu saja pura-pura jadi sebatang kayu yang hanyut di sungai, begitu dekat sasaran langsung saja si kijang diterkam oleh si buaya.


Waktu di pantai senggigi ketika Dayu sedih dan curhat masalah bapaknya yang galak dan otoriter, saat itu aku mendekatinya dan bersedia menampung segala curhatnya. Aku pura-pura berperan sebagai bapak yang balik, lemah lembut penuh perhatian (berlawanan dengan sifat ayahnya, sehingga dalam waktu yang singkat dia percaya dan simpati kepadaku. Lalu dengan pelan-pelan aku seret simpatinya sebagai seorang anak ke simpati seorang lelaki. Dan aku berhasil baik melakukannya).


Ya, Dayu memang memerlukan figur seorang lelaki yang kebapakan, lemah lembut, pengertian, sabar, penuh perhatian. Dan aku tahu itu, disinilah aku masuk sebagai seorang bapak seperti yang diharapkan, karena dirumah dia tidak dapatkan dari Bapaknya. Kemudian setelah berhasil menarik kepercayaan dan simpatinya, kemudian aku seret dia ke hubungan seorang wanita dan pria.


Awalnya dia menyesali hubungan seperti ini. Dia yang gadis alim dari keluarga terhormat dan merupakan bunga desa idaman para pria, harus takluk dan bahkan menyerahkan tubuh dan keperawanannya kepada lelaki tua seumur ayahnya. Namun nasi sudah menjadi bubur, bagaikan orang yang awalnya agak dipaksa untuk mengisap sebatang rokok kini malah kecanduan dan menjadi pecandu rokok yang sangat berat. Dayu sudah tidak mampu lagi keluar dari jeratan nafsu birahi yang sudah aku tulari.


"Bapak lagi nglamun ya. Pasti nglamuni anak istrinya di rumah", bisiknya.


Lamunanku buyar. Kata-kata yang selalu di ulang-ulang apalagi aku ketahuan diam seperti ini.


"Ah tidak sayang, aku lagi meresapi kenikmatan yang baru kita peroleh bidadariku", rayuku sambil mengisap daun telinga.


"Gombal!", katanya sambil menggelinjang kegelian. Wajahnya nampak merah.


Ya, setiap selesai bersetubuh, aku suka mengamati wajahnya secara diam-diam. Terkadang kulihat alisnya berkerut-kerut. Kadangkala air matanya mengalir membasahi pipinya. Aku tahu ada pertentangan batin yang sangat dalam dihatinya. Disatu sisi dia menentang perbuatan maksiat ini karena tidak pantas dilakukan gadis baik dan terhormat sepertinya. Tapi disisi lain nafsu birahinya sudah kadung dinyalakan oleh buaya tua disampingnya. Kini nafsunya sudah gejolak kepundan merapi membara-bara.


Ya, aku sudah berhasil mengobarkan nafsu birahi yang bersembunyi di lubuk hatinya. Nafsu naluri hewani yang hampir semua dimiliki oleh insan manusia yang normal.


Awal-awal aku berhasil menyeretnya ke tempat tidur, sehabis bersenggama dia selalu buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian bangun dan lari ke kamar mandi dambil membawa pakaiannya.


Namun kini, dengan kenakalanku Aku singkirkan semua pakian dan selimut begitu berhasil kutelanjang saat pemanasan.


Seperti saat ini, dia menyembunyikan wajahnya ke dadaku yang bidang dan penuh bulu ini. Demikian pula tubuhnya tenggelam dalam pelukanku. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menutupi rasa jengahnya. Tubuh kami yang berdekapan ini sangat kontras. Tubuh perempuan ini putih mulus bagai bidadari. Ujung Kepalanya hanya sampai di puting dadaku hingga dengan mudah aku ciumi ubun-ubunnya. Sedangkan tubuhku kekar penuh bulu di dada, lengan paha dan kaki. Kumisku agak kaku melintang, sedangkan sisa-sisa cukuran jenggotku tidak kugundul habis (sangan asik dan nikmat kalau di gosok-gosokkan kesekujur tubuh lawan mainnku). Kulitku agak kecoklatan, urat-uratbesar melingkar-lingkar pada bagian-bagian tertentu tubuhku. Yang paling kubanggakan adalah lingkaran urat yang mengelilingi kontolku. Tidaklah heran setiap wanita yang kutiduri pasti ketagihan dan selalu orgasme (paling tidak mereka 2 kali orgasme sebelum aku menysul).


Dalam bermain sex, aku bukan pria yang egois dan hanya memikirkan kepuasanku sendiri. Begitu naik ranjang telanjangi pasangan dan buka pahanya dan masukkan kotol ke vagina dan beberapa menit selesai lalu tidur. Aku tidak seperti itu. Aku selalu memuaskan pasanganku dengan diawali foreplay. Bahkan sering dalam tahap foreplay ini pasangannku sudah keburu orgasme. Seperti Dayu ini misalnya, waktu foreplay tadi sudah berkali-kali orgasme. Kontolku masih kering dan belum sempat dihujamlan ke lubang vaginanya.


Kepeluk tubuhnya, kubelai rambutnya, kubiskkan kata-kata mesra ketelinganya.


"Sayang, kita mansi yuk!", ajakku. Dia diam saja. Aku bangun lalu kubopong tubuhnya. Dengan sama-sama telanjang bulat kita ke kamar mandi. Di kamar mandi kita mandi saling siram persis anak kecil. Dia malu-malu saat tubuhnya kusabuni. Terkadang dari mulutnya terdengar ketawa cekikikan dan diselingi pekikan-pekikan, rintihan dan desahan . Ya, ini ulah jari-jariku saat menyabuni tubuhnya. Tanganku suka gentayangan ke bagian-bagian peka tubuhnya. Mencolek, meraba meremas, melintir, memasukkan jari kebagian tubuhnya yang ada lubangnya. Membuat dia menggelinjang-gelinjang kegelian.


Sedang asik-asiknya bercengkrama tiba-tiba, "Tok...tok...tok!"


"Bapak siapa itu?", kata Dayu gugup.


"Sabar manis, biar Pak keluar". Aku keluar kamar mandi dan membuka pintu kamar.


"Maaf pak, saya mengganggu. Saya membawa santap malam sesuai pesanannya", Ooo, seorang roomboy rupanya. Ya, tadi lewat roomphone aku memesan makanan.


Setelah menaruh hidangan di atas meja, roomboy itu segera keluar kamar sambil menerima sekedar tip dariku.


"Siapa Pak?", Dayu keluar dari kamar mandi dengan tubuh hanya berbalut handuk.


"Roomboy sayang. Kita makan yuk mumpung hidangannya masih hangat!", ajakku.


"Saya belum berdandan pak!", jawabnya.


"Sudah ga usah! mamangnya kamu mau konser sayang".


Namun dia tetap duduk didepan meja yang ada cerminnya, Ah dasar wanita sudah nalurinya selalu ingin dandan.


Setelah membedaki pipinya dan mengoleskan lipstik di bibir, masih berbalut handuk kami pun santap malam bersama.


Selesai santap malam, Dayu berdiri di depan cermin sambil membuka bibirnya. Kali aja ada kulit atau batu cabe yang nyelip di giginya yang putih dan rapi itu.


Melihat tubuhnya yang agak nungging itu, Kontolku kontan menjadi kaku.


Dengan berindap-indap kudekati tubuhnya dari belakang. Percis kayak harimau mengintip kijang dan......"Aaaaaaawwwwwhhh...iiiiiihhhhh!", teriaknya kaget. Aku tak perduli, "Hehehe, tadi aku belum puas manis".


Tubuhnya kupondong dan rebahkan ke atas kasur. Tanpa memberi kesempatan, bibirnya sudah kulumat. Akhirnya dia membalas lumatanku. Lidah kami saling belit. Hm, dia semakin makhir aja berciuman.


Setelah melumat bibirnya, kini kulanjutkan menjilati lehernya yang mulus jenjang. Terdengar rintihan keluar dari kerongkongannya.


"Pak jangan dicupang leherku ya, malu", bisiknya.


"Hm. tapi tempat yang tertutup pakaian boleh kan?", godaku. Dia tersipu malu. Ya, aku suka meninggalkan tanda cupangan merah di bagian tubuhnya yang tertutup. Seperti di payudara, perut, paha bahkan kelaminnya (biar ada kenang-kenangan).


Pergumulan nafsu kami makin seru saja. Hampi seluruh tubuhnya sudah kujilati. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kuisap belakang telinganya, tengkuknya yang pitih mulus sehingga terdengar rintihan dan desahan manja.


Kepalaku aku turunkan keselangkangannya. Handuk yang membungkus tubuhnya sudah kulucuti dan buang jauh-jauh. Kini dihadapan wajahku selangkangannya masih ditutupi CD biru muda bergambar bunga kecil-kecil berwarna merah. Nampak ada lingkaran basah di sela-sela belahan pepeknya. Hm, sudah becek rupanya.


Aku turunkan CDnya dan aku tarik lewat kaki dan kubuang jauh-jauh.


Wow, pepeknya indah sekali, meski sudah lebih dari 20 kali lubangnya kemasukan kontolku yang besar panjang ini, namun bentuk pepeknya belum berubah. Belum rusak. Waw, indah sekali.


Dengan gemas aku kuakkan pahanya kekiri dan kekanan agak menekuk sehingga belahan pepeknya menganga. Belahan pepek dan labia mayoranya berwarna merah muda. Sedangkan dibagian tengah atas pada pertemuan kedua bibir luarnya nampak nangkring sebiji kacang berwarna merah berdiri tegak. Ya itulah klentit atau klitoris. Benda kecil yang dipenuhi syaraf-syaraf peka yang apabila di eksploitasi akan membuat para wanita berkelejotan kenikmatan bahkan orgasme.


Kini bibirku akan mengeksploitasi pepek ini. Kujilati labia mayoranya. Tubuh Dayu langsung menggelinjang-gelinjang kegelian. Bibir dan terutama lidahku menjilat dari bawah ke atas, dan dari atas bali kebawah. Kekiri, kekanan, memutar-mutar terkadang ujungnya memasuki vagina. Selama kegiatanku ini, tubuh Dayu terus bergelinjang-gelinjang bagai cacing kepanasan di selingi rintihan antara suara erangan dan tangis tidak berdaya. Antara menolak dan menikmati, hal ini selalu muncul saat tubuh kami menyatu. Jeritan melingking keluar dari bibirnya yang indah tatakala ujung lidahku mengais-ngais biji klentitnya. Pinggulnya terangkat-angkat, kepalanya bergoyang kekiri dan kekanan. Rambutnya acak-acakan karena ikatannya terlepas entah kemana. Sementara kedua jemari tangannya meramas-remas seprai tempat tidur sampai berantakan. Sungguh pemandangan yang sangat erotis.


Ya, aku berhasil membuat wanita yang alim dan santun ini menjadi jalang di atas ranjang. Tapi ingat, hanya diatas ranjang. Itupun kalau aku yang melakukannya (apa pria lain akan mampu melakukannya?). Kejalangan ini adalah reaksi bawah alam sadarnya dan sisi hewaninya yang berhasil kubangkitkan. Seperti kujelaskan diatas, apabila hubungan badan ini sudah berakhir dan pikiran sadarnya normal kembali, disitulah timbul pertentangan batinnya antara membenarkan perbuatan ini dan menolaknya. Dan pikiran baiknya sering kalah oleh bayangan kenikmatan bersanggama yang luar biasa ini. Airmatapun tak ada gunanya meleleh.


Demikian halnya saat ini, aku merasa menjadi lelaki jantan, lekaki penakluk. Menaklukkan tubuhnya dan menyeret akal baiknya untuk membenarkan perbuatan ini dan kalah digoda nafsu berahinya. Ya, Dayu tidak mampu menaklukkan nafsu berahinya sendiri, Nafsu berahi yang dibangkitkan oleh seorang pria tua yang pure-pura alim dan muncul belangnya saat puncak birahi seperti saat ini.


Puas mengeksploitasi kelaminnya, aku bangkit duduk. Kubuka handuk yang masih melilit pinggangku. Kubuang handuk itu kesudut kamar, juga CD yang kupakai. Kini kontolku yang ujungnya botak berwarna merah tua mengkilap. Sementara batangnya mengacung kaku menantang langit. Batangnya yang hitam legam penuh dilingkari otot-otot yang melingkar. Setiap wanita yang melihat bentuk kontolku pasti menjerit ngeri. Dayu pun awal-awalnya begitu.


Kini perempuan yang sudah telanjang pasrah karena dikuasai nafsu berahinya ini menutup mukanya. Aku menyeringai bangga melihat lawanku sudah tak berdaya.


Kukangkangkan kedua pahanya dan agak kutekuk sehingga belahan pepeknya menganga. Sungguh pemandangan yang erotis dan mengunadang berahi semakin menggelegak.


Ujung kontolku kuusap-usapkan pada belahan bibir pepeknya yang sudah sangat becek itu. Timbul kenakalanku, ujung kontolku yang seperti topi baja tentara itu aku godok-godokkan ke klentitnya sehingga membuat tubuhnya semakin mengelinjang blingsatan tak karuan.


"Oh...oooohhhh..ooooohhhh....mhhhhh...ppppaak!", demikian rintihan birahinya menyayat.


Puas mempermainankan perasannya, aku hujamkan rudalku ke lubang vaginanya.


"Paaak! Oooohhhhhh....!", hanya pekikan itu yang terengar dari mulutnya bersamaan terbenamnya semua batang kontolku.


Seperti ada yang meremas dan memijit batang kelaminku. Terasa panas, lembut dan juga becek menyelimuti batang kelaminku ketika terbenam dan terjepit di lubang vaginanya. Oh nikmat buanget. Pantaslah kalau orang mengatakan keadaan seperti ini bagaikan sorga dunia.


Kuangkat kedua paha kiri dan kanannya ke pundakku. Selanjutnya pinggangku kuaynkan maju mundur.


"Sssshhhhhh....ooooohhh.....oohhhhh!", demikianlah suara-suara rintihan, desahan dan sekali-kali diselingi pekikan manja dari mulut Dayu. Sementara aku sekali-kali menggeram-geram bagai raksasa buas.


Berbagai posisi sudah kami coba. Doggy Style, sekali-kali Dayu diatas dan aku dibawah, 69, miring, gendong dsnya. Kini Dayu sudah lemas. Entah pinsan atau bagaimana. Aku kembali keposisi klasik dengan tubuhku dibagian atas.


Sudah tidak ada perlawanan lagi. Aku rasakan tadi berkali-kali ujung dan batang kontolku tersiram air. Itu pertanda Dayu udah orgasme berkali-kali. Kini aku mengejar orgasmeku sendiri. Goyangan pinggulku semakin kencang maju mundur. Kontolku terus menghujam keluar masuk pada lubang kelamin yang sama dengan sangat cepatnya. Aku rasakan ada yang akan keluar dari saluran kelaminku dan......Aaaaaaaaaaaahhhh! Bersamaan dengan erangan yang keluar dari mulutku, spermaku muncrat masuk ke dalam vaginanya Dayu.


"Ooooooohhhh!.....Ahhhhhh.....shhhh.....cret-cret-cret-cret!", banyak sekali spermaku tumpah ke lubang pepeknya Dayu. Bahkan lubang itu tak mampu menampung sehingga sampai meluber ke luar.


Kurebahkan tubuhku berjajar di samping tubuh Dayu. Meski udara pegunungan ini malam ini cukup dingin, namun keringat kami sama-sama bercucuran.


Kutolehkan wajahku ke samping menatap wajah lawan mainku, kubisikkan kata-kata lembut penuh sayang di telinganya, "Gimana sayang, kamu puas ga?".


Kontan saja dia menutup mukanya dengan bantal. Aku tersenyum geli dibuatnya. Lengannya agak ke atas karena posisi tangannya diatas bantal yang menutup mukanya sehingga ketiaknya terbuka. Ketiak itu begitu bersih dan sangat mulus. Dengan gemas aku dekatkan mukaku dan kujulurkan lidahku untuk menjilat ketiaknya. Sementara jari-jemari tangan kananku meremas buah dadanya yang teronggok nganggur.


"Aduh!", pekiknya kaget. Hm, harim banget ketiaknya dan lembut banget buah dadanya.


Selanjutnya kupeluk tubuhnya. Kamipun akhirnya tidur kelelahan sambil berpelukan.


Kemesraan ini kami lakukan sampai minggu sore menjelang cek out dari villa itu.


Sebulan setelah pertarungan di puncak Bdgl itu, aku mendapat telepon dari Dayu. Setiap hari sih selalu kami saling telepon melepas rindu atau smsan.


Tapi telepon kali ini lain. Penting katanya, dan ingin bertemu langsung denganku karena ada yang ingin dibicarakan. Nada suara Dayu sangat tegang. Wah ada-ada aja anak ini. Pakai tegang-tegang segala. Aku bukannya ikut tegang, eh malah bagian tubuhku yang kuanggap penting malah tegang.


"Hm, yayang sudah ga tahan ya", godaku untuk mendinginkan suasana.


"Bapak berhentilah bercanda. Ini serius", katanya tegang.


Kemudian dia menunjuk suatu tempat pertemuan yang agak sepi di sebuah pantai bagian timur Pulau ini.


Meski pantai ini daerah wisata terkenal, tapi karena hari ini hari selasa yang merukan hari kerja dan bukan hari libur. Maka suasana menjadi sepi, setelah memarkir mobilku, aku pun bergerak ke sebuah bangunan kosong yang biasanya dipakai tempat berteduh oleh para wisarawan yang berkunjung kesini.


Sesuai telepon tadi, aku disuruh menemuinya di banguan itu. Dari jarak 10 meter, aku lihat yayangku sudah duduk menunggu. Begitu dekat denganku, dia berdiri dan memeluk tubuhku.


"E...e..e..e..ada apa ini sayang", balasku memeluk. Ada isakkan halus kudengar dari kerongkongannya.


"Tenanglah sayang, ada apa?", bisikku menghibur sambil menuntun duduk tubuhnya.


Setelah menarik nafas panjang iapun berkata, "Ajik mau menjodohkan aku dengan sepupu".


Setelah berkata begitu, iapun menundukkan wajahnya.


"Hm, apa kamu menerimanya?", tanyaku masih tenang-tenang saja.


"Aku...aku...tidak berdaya. Keluarga besar sudah setuju", bisiknya sedih.


Hm, ternyata di jaman modern ini masih saja ada perjodohan ala "Siti Nurbaya".


Aku diam sejenak.


"Gimana Pak?" selanya.


"Gimana apa? Lho, kan kamu yang akan menikah, kok malah bertanya padaku?".


Wajahnya agak pucat, sambil menoleh kekiri dan ke kanan seolah-olah takut ada yang mendengar kata-katanya, iapun berbisik didekatku, "Pak, saya sudah terlambat 1 bulan".


"Apa?", tanpa sadar aku berteriak.


"Ssst..., jangan teriak keras-keras pak!", bisknya takut-takut.


"Eh, dari mana kamu tahu bahwa kamu...", balasku berbisik.


"Aku sudah periksakan ke dokter", katanya pelan.


"Lho, kok tidak ngajak-ngajak aku?", protesku. "Ohya itu...itu..punya siapa?", lanjutku curiga.


"Ya, punya Bapak lah. Aku tidak pernah berbuat dengan pria mana pun selain hanya dengan Bapak!", berkata begitu wajahnya langsung cemberut. Eh malah tambah manis. Aku jadi gemas dan ingin menyergap dan mencium bibirnya.


"Eit, Bapak ini tempat terbuka lho", dia memperingatkan.


Kontan aku batalkan tindakanku yang sudah pasang kuda-kuda menerkam ini. Ahya ini tempat terbuka, kalau ada yang lihat kan jadi ga enak. Apalagi dilihan Hansip, bisa-bisa digelandang ke kantor polisi.


"Hm, apa akan kamu gugurkan?", tanyaku.


"Tidak!", katanya tegas.


Jawabannya ini sungguh diluar dugaanku. Biasanya pada umumnya para gadis yang dihamili akan selalu menuntuk minta pertanggungjawaban pria yang menghamilinya atau minta diantar menggugurkan kandungannya. Perempuan ini malah lain dari pada yang lain.


Aku jadinya cuma diam bengong saja sambil garuk-garuk kepala.


"Lalu bagaimana?", tanyaku.


"Aku akan pelihara Pak", jawabnya pasti dan yakin.


"Bagaimana dengan suamimu kelak", kataku ragu-ragu.


"Biar saja, kalau dia benar-benar mencintai saya, dia akan menerima saya apa adanya", jawabnya meyakinkan.


Aku hanya diam saja. otakku jadi buntu untuk berfikir.


"Lagian, hubungan Bapak denganku cukup rumit dan back street. Saya tak ingin merusak rumah tangga Bapak", katanya sambil menunduk dan meremas-remas tangannya sendiri.


"Kamu benar, maaf ini bukan untuk menyelamatkan rumah tanggaku kalau aku menyetujui pandanganmu itu. Soalnya, andai aku ngotot, Ajikmu akan kaget karena calon mantunya seusia bahkan lebih tua dari umurnya. Rumit ya", kataku. Dia mengangguk.


"Ya, yang lebih gawat lagi, Ibuku kan sakit jantung. Aku khawatir kalau penyakitnya kumat kalau mengetahui keadaanku ini", lanjutnya lirih.


"Apa keluargamu tidak ada yang tahu kalu kamu sudah...hamil?", tanyaku.


Dia mengeleng-gelengkan kepalanya,"Aku hanya beritahu ayah bayi ini dan...dokter yang memeriksaku", katanya sambil menarik nafas panjang.


Meskipun suasana tegang, aku sempat juga berkata nakal, "Bagaimana sebagai perpisahan kita....", aku bisikkan sebuah kata nakal kepadanya.


"Ihhh...Bapaaaak!", jeritnya sambil mencubit lenganku keras-keras.


"Gimana, mau ga?", godaku dengan senyum nakal.


"Weeeeee..!", berkata begitu diapun meleletkan lidahnya.


"Soalnya bayi yang kamu kandung itu kan belum lengkap", kataku yang membuat dia kaget.


"Maksud Bapak?", katanya terbelalak. Kudekatkan lagi bibirku ke daun kupingnya. Diapun mendekatkan ke kupingnya ke bibirku. Dia pikir aku kan membisikkan sesuatu ke kupingnya.


"Ihhhsshh, geli Pak!", teriaknya ketika kumisku kugosokkan ke daun telinganya.


"Coba dekatkan telinganya ke sini", kataku.


"Ga mau ah! Bapak nakal!", katanya menjauh.


"Sekarang serius kok!", kataku menyerius-riuskan wajah sehingga dia kembali terpancing mendekat.


"Apa?", tanyanya.


"Begini sayang, anak kita itu kan belum sempurna. Belum ada kupingnya, gimana kalau sekarang aku ajak kamu nyewa kamar hotel. Aku akan buatkan kuping biar lengkap". kataku seius.


"Bapaaaak!" Ih terlaluuuu!", teriaknya sambil mencubit-cubitu hampir seluruh tubuhku.


Itulah pertemuan terakhirku dengan Dayu. Aku dan dia sempat menyewa kamar hotel di dekat pantai itu. Meski awalnya aku hanya iseng menggodanya dengan kata-kata nakal, eh malah dilanjutkan di kamar hotel untuk membikin kuping agar bayi kami kelak lahir dengan lengkap.


Seminggu setelah pertemuan dan pertempuran terakhir di pantai itu, datanglah surat undangan pernikahan mereka.


Aku datang kepernikahan mereka. Pasangan yang serasi, lakinya tampan dan wanitanya cantik buanget. Namun selama di kursi undangan, wajahku selalu tertuju pada perut si mempelai wanita. Disana anak kami saat ini sedang bersemayam sampai saatnya keluar mengjirup dunia ini. Sabar ya nak. kami akan tunggu kamu.


Saat akhir acara, ketika tetamu para undangan pulang seperti sudah tradisi dimana-mana para tamu pun menyalami kedua mempelai sambil mengucapkan bahagia,


Ketika giliranku menyalami kedua mempelai terutama sekali menyalami mempelai wanita, aku lihat dimatanya ada titik-titik air mata. Ingin kuusap air mata itu, namun akau tahan keinginan gila itu. Dengan tegar kusalami kedua mempelai. Saat menggenggam tangan mempelai wanita, aku remas tangannya sehungga dia gugup dan menundukkan wajahnya. Para hadirin sangat sibuk disana sini sehingga tak satupun orang memperhatikan. Hanya kami yang tahu perasaan kami saat itu.


Esoknya sekitar jam 10 pagi, HPku berdering dan...ah Dayu! Ada apa dengan anak ini, kok berani-beraniny menelepon saat masa bulan madu?


"Halo Yu, ada apa? Kok menelponku? apa suamimu ga curiga?", tanyaku.


"Ah dia? dia lagi bertemu dengan teman-teman kerjanya di ruang tamu di depan sana", katanya santai.


"Lho gimana ini? Istri yang baik kan harus mendampingi suaminya saat menerima tamu?", celaku.


"Sudah Pak! Dari tadi aku ikut nimbrung disana menemani suamiku. Aku baru aja permisi ke belakang, pipis", katanya dengan merdu. Ah suara itu selalu membuat aku rindu.


"Ha pipis? Ssst....sudah bersih ceboknya? Wah kalau Pak disana, pasti Pak yang nyebokin", godaku nakal.


"Iiihhh Bapaaak...! dasar ngeres aja bawaannya!", teriaknya diseberang sana.


"Ngeres? Tapi situ suka kan kengeresan Pak", godaku lagi.


"Weeeee...weeeee....", teriaknya dari sana.


"Sayang!", rayuku.


"Ya!".


"Gimana malam pertamanya?"tanyaku mulai nyerempet-nyerempet.


"Gimana apa?", katanya pura-pura ga ngerti.


"Ya, seru nggak pertarunhannya", aku makin nakal aja.


"Biasa aja!", kataya datar.


"Lho, biasa aja, ya biasa aja", katanya penuh misteri.


"Ooo...pasti kayak ayam. Buka pakaian, lalu cret-cret selesai".


"Ih, Bapak ini!", protesnya.


"Ehm maaf ya sayang, apa suamimu ga curiga malam pertama kok lancar buanget?", tanyaku nekat ga perduli apa dia akan marah nantinya.


"Ga, kan cepat lalu...dia tidur...eh..hm...anu!", dia gugup, tentu tanpa sadar kondisi sex mereka keceplosan terbongkar lewat pengakuan tadi.


"Bapak, sudah ya, saya mau menemui suamiku dulu. Ntar dicari-cari dikira ke mana", katanya menutup pembicaraan kami.


"Ok, sayang kapan-kapan kalau ada masalah telepon Bapak ya. Cup! Cuuuuuup! Mmmmmmuuuuaaaaahhhh!", kataku sebagai salam penutupan. Tak ada balasan apapun dari seberang sana karena HPnya keburu ditutup.


Hehehe jadi suaminya seperti lelaki umunya di daerahku ini sangat menabukan sex. Apakagi memperlakukan sex segai ajang rekreasi. Bagi kebanyakan pria di daerahku, lebih-lebih di daerah agak pedesaan seperti tempat Dayu ini kawin, sex hanyalah sebatas ritual hubungan suami istri untuk melanjutka keturuan. Lain dari itu tidak. Tak dapat kubayangkan bagaimana akan tersiksanya Dayu karena aku telah membangkitkan gairah nafsunya sehingga menjadi wanita yang sangat panas di tempat tidur.


Penampilannya di luar masih tetap kalem, lembut, sopan santun, keibuan seperti kebanyakan wanita timur pada umumnya. Tapi dibalik semua penampilan itu, Dayu sudah memendam bara nafsu yang menggelora. Sewaktu-waktu kalau tidak tersalurkan, endapan itu kian lama kian menumpuk dan suatu jetika akan meledak.


Demikianlah kisah asmara ini, Kisah yang merukan lanjutan kisah sebelumnya yang berhudul "DAYU GADIS KESEPIAN". Tentu kisaj ini masih kisah pengalaman nyata dari teman kantorku yang bernama ngr bengo.


Sekian dulu sampai berjumpa lagi pada kisah-kisah tulisanku yang lainnya.














Rabu, 01 Juli 2009

DAYU GADIS KESEPIAN



Oleh : ST
Kali ini aku mengisahkan pengalaman sex teman kerjaku. Namanya Bengo. Selamat menikmati. Namaku bengo. Aku seorang PNS di sebuah lembaga Pendidikan di Kota G Propinsi B. Saat ini aku sedang berada di dalam kabin pesawat udara Trenggana Air jurasan D - Mataram Lombok. Aku ada tugas kantor ke Mataram. Setelah mendarat di Bandara Seleparang Mataram, aku langsung memesan taxi ke Hotel JK di pantai Senggigi Lombok Barat (nama hotel sengaja aku singkat. Soalnya takut aku kena kasus mirip Prita Mulyasari yang hanya soal curhat via e-mail saja dijerat dengan pasal undang-undang ITE oleh pihak manajemen sebuah rumah sakit di Tanggerang). Singkat cerita, kini aku sedang mengurus administrasi dengan panitia penyelenggara yakni instansi pemerintah pusat Jakarta. Setelah mengurus administrasi, aku mengurus kamar hotel dimana aku akan menginap. Aku mendapat kamar yang strategis yakni menghadap ke pantai dimana pantai Senggigi yang indah terhampar dengan pasirnya yang kelabu sangat mempesona. Setelah membongkar isi koper dan memasukkan semua pakaian ke lemari, aku istrirahat sejenak. Jam 16.00 wita setelah mandi, sesuai jadwal akupun pergi ke ruang pertemuan sebuah hall luas hotel JK yang berbintang 5. Para peseta sudah hampir memenuhi ruangan pertemuan ini. Peserta yang di undang dalam Work Shop ini berjumlah 50 orang dari Indonesia Kawasan Timur dan Tengah. Mataku kelalatan kesana kesini dan...dug jantungku berdebar-debar ketika pandanganku tertuju pada seorang wanita (aku tidak menyebutnya gadis karena aku belum tahu apa dia sudah punya suami apa belum). Wajahnya cantik buanget menurut ukuranku. Kulitnya putih bersih. Rambutnya cukup panjang sampai di bahu dan di ikat ekor kuda. Sosoknya mirip Galih Ratna, itu tuh si bintang senetron kita. Dia pakai pakaian atas coklat muda dan dipadu dengan rok warna hitam. Hm, kalau menirukan slogan iklan berbunyi, "Aapapun makanannya yang penting minumnya..... ". Ya, busana apapun yang dipakai wanita itu kalau sudah cantik bak bidadari pasti cocok. Buru-buru aku mendekatinya dan mepet dibelakangnya. Kebetulan pas aku sampai dibelakang wanita itu, panitia mempersilahkan peserta menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Aku pun langsung duduk disampingnya. Dia menoleh kepadaku dan sir darahku berdesir saking manisnya senyum itu. Aku ini lelaki sangat pede. Meski kini usiaku sudah 45 tahun, sisa-sisa ketampananku belumlah pudar. Dimasa muda sebelum berumah tangga, aku dikenal lelaki play boy dan buaya darat. Sampai sekarangpun watak hidung belangku belum hilang. Ditambah lagi wajahku yang tampan dengan tubuh yang atletis selalu membuat para cewek klepek-klepek. Setelah panitia pentelenggara membuka acara dengan segala tetek bengeknya (laporan panitia sambutan pejabat dsbnya. Aku tidak dengar semua itu karena mataku asik meliriki makhluk cantik di sebelahku), kini saat nya panitia menyuruh peserta memperkenalkan namanya dan asal instansi dan daerahnya masing-masing. Nah, ini dia yang kutunggu-tunggu. Aku akan tahu siapa nama wanita ini. Setelah beberapa orang peserta memperkenalkan nama dan asal instansinya, kini tiba giliran sang sasaran idola memperkenalkan dirinya, "Nama saya Ida Ayu SW dari Instansi DP kota K Propinsi B", katanya dengan lembut. Lha wanita ini sedaerah denganku. Wow kebetulan, pasti pendekatannya akan lebih lancar (sudah menjadi naluri kita di Indonesia, kalau ketemu warga se kampung di rantau, kita akan lebih cepat akrab, betul ngga?). Dugaan itu memang benar, aku saangat cepat akrab dengan Dayu (begitu aku memanggilnya). Kamarnya hanya 5 blok dari kamarku. Kami cepat akrab, saat santap malam kita juga 1 meja makan. Kita banyak bicara tentang pekerjaan kita, suasana di daerah asal kita yang ternyata desanya dan desaku bertetangga. Wah. aku benar-benar mabuk deh. Lupa dengan anak istriku yang ketika mengantar ke bandara berpesan agar hati-hati selama tugas dan ke 2 anakku yang minta di beli in oleh-oleh. Lupa deh semuanya oleh manisnya senyum si Dayu. Esok paginya aku bangun jam 6 pagi. Setelah cuci muka dan gosok gigi, aku keluar kamar dan mau jalan-jalan di pantai senggigi. Keadaan pantai di depan hotel masih sepi dan suasana remang-remang. Sedang asik berjalan sambil menggerak-gerakkan lengan melakukan peregangan tiba-tiba ada yang memanggil, "Pak..., Pak Ngurah Bengo tunggu !". Ketika aku menoleh, sirrrrr....darahku langsung berdesir. Sang wanita pujaan yang semalam selalu kulamunkan bahkan ku impikan kini lari-lari ke arahku. "He ! Dayu rupanya" "Ya Pak. Bapak mau kemana?" "Mau jalan-jalan cari udara segar" "Wah kebetulan, saya juga ingin mengenal lingkunga sini" katanya agak manja (hm jadi gemes nuh lihat sifat manjanya. Kami pun berjalan-jalan sepanjang pantai sampai hampir 1 km ke arah selatan, dimana pantainya makin sepi dan dipinggir pantai ini tidak ada Hotel tetapi dipenuhi semak-semak. "Pak kita sudah jauh berjalan nih. Saya sudah capai", kata Dayu terengah-engah. "Jangan khawatir, kalau Dayu capai ntar tak pondong", kataku genit. "Ih Bapak nakal ah", katanya malu-malu dengan wajah bersemu merah. Aku bengong dan terpesona melihat wajahnya saat seperti itu. "Pak! Kok bengong sih?" "E...e..e, anu...Dayu pagi ini cantik sekali" kataku penuh rayuan. "Ih Bapak, saya kan belum mandi" "Wah, belum mandi aja sudah sangat cantik apalagi kalau sudah mandi...ck, ck, ck !" "Ih Bapak ini...." katanya lalu lengan kiriku dicubitnya. Kemudian dia duduk di pasir. Aku pun menghampirinya dan duduk disampingnya. Kami banyak berbicara tentang diri kami. Aku jujur saja kepadanya bahwa aku sudah berumah tangga. Demikian juga Dayu, dia jujur menceritakan siapa dirinya dan keluarganya dsbnya. Ternyata Dayu adalah anak tunggal. Dia belum punya pacar padahal gadis se usia dia yang baru berumur 22 tahun sudah pada asik berpacaran. Ketika kutanya soal belum punya pacaran, dia bilang 5 bulan yang lalu pernah punya pacar, tapi bapaknya ga setuju dengan pasangannya. Ayah Dayu ini ternyata orang kolot dan fanatik dengan tradisi kuno. Sementera Ibunya tidak bisa bilang apa karena takut dengan suaminya yang sangat galak. Sampai kini Dayu belum juga punya pacar. Selama menceritakan keadaan dirinya, Dayu sangat sedih sampai menitikkan air matanya. Kesempatan ini aku gunakan untuk memeluk pundaknya, "Sabar ya Dayu, semua sudah digariskan oleh yang di atas. Kalau saatnya tiba, percayalah Dayu akan ketemu dengan lelaki yang menjadi jodohnya". Lalu aku belai rambutnya dan dengan nekat ku usap air matanya. "Aduh Pak, terimakasih ya Bapak baik sekali. Kalau saja saya punya ayah sebaik Bapak, Ooo saya pasti bahagia", katanya sambil menengadah. Saat wajahnya yang cantik luar biasa itu menengadah, aku dekatkan bibiku ke bibirnya (kayak berjudi aja nih, kalau beruntung dia akan diam pasrah, kalau tidak paling sial wajahku ditamparnya) dan...,dug dug dug jantungku berdebar keras karena Dayu malah memejamkan matanya. Wow asiik, langsung aja bibirku mengarah ke bibir Dayu yang bentuknya indah itu dan......, Cuuuup..., mmhhhh....mmmmmm. Bibir kami pun saling pagut, saling isap , lidah kami saling belit. Wah enak buanget, lembut, panas. Sebagai lelaki yang sudah banyak meniduri wanita aku tahu Dayu ini ibaratnya orang sedang kehausan. Haus dari belaian lelaki. Apalagi beberapa bulan yang lalu putus cinta. Pasti sangat kesepian. Pantai ini sangat sepi, cuaca masih remang-remang. Aku rebahkan tubuh Dayu ke pasir. Bibir kami masih saling pagut kian seru. Setelah rebah dipasir, wajahku ku arahkan ke lehernya yang putuh mulus. Kumiskan yang tebal menggesek-gesek kulit lehernya yang halus itu. Itulah salah satu dari bagian tubuh wanita yang paling peka. Kalau diseruduk, wanita akan cepat bangkit nafsu berahinya. Dan memang begutlah kenyataan. Tubuh Dayu menggelinjang-gelinjang bagai cacing kepanasan disinari matahari di atas pasir. Mengelinjang ke kanan dan kekiri. Lidahku menjikat-jilat sepanjang leher, bawah dagu dan ketika bibirku mengisap belakang telinganya, Dayu menjerit dan merintih. Ini pertanda seorang wanita sudah tidak dapat lagi menahan birahinya. Aku buka baju kaosnya. Dia pasrah saja sambil memejamkan matanya. Meskipun payudaranya masih ditutupi bra berwarna pink, aku sudah tau berapa ukurannya. Tanganku melanjutkan kerjanya, aku buka branya dan plong, tersembulah buah dadanya. Wow, indah sekali seperti gunung Renjani. Ukurannya proporsional, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil. Ukuran buah dada yang menjadi paforitku. Bibirku langsung saja mengisap puting buah dadanya yang sebelah kiri yang berwarna merah muda dan berdiri tegak pertanda berahi. Sementara tangan kananku meramas-remas buah dadanya yang sebelah kanan. Karuan saja tubuh Dayu kian belingsatan dan rintihannya kian menyayat antara mau menangis dan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Setelah main dibagian dada, kini bibirku menelusuri kebawah ke bagian perut. Kujilati perutnya yang sangat mulus. Tak lupa ujung lidahku mengorek-ngorek lubang pusarnya. Tentu saja perbuatanku ini membuat tubuh Dayu kian melenting-lenting. Kutoleh keadaan pantai ke kiri dan ke kanan. Masih sepi, LANJUTKAN ! (kayak slogan salah satu Capres aja). Aku tarik celana training biru yang dipakainya sampai lepas. Tapi sepatu olahraganya masih kubiarkan terpakai. Waw, berkali-kali aku dibuat terpesona. Kini dihadanku terpempang tubuh gadis cantik yang hanya pakai CD aja. CDnya berwarna merah muda. Disela-sela CDnya dibagian belahan pepeknya terlihat bundaran basah. Ah dia sudah becek. Aku suka ini. Tanpa membuka CDnya, mulutku langsung saja menyruduk bagian basah di CDnya itu dan bibirku ku gosok-gosokan pada belahan basah itu. "Aaaawwww..,oooohhh....pak...ah...ah...ah!", terdengar jeritan Dayu saking gelinya. Aku tak perduli dengan teriakkannya. Justru teriakan itu membuat aku semakin bernafsu saja. Pantat Dayu sampai terangkat-angkat selama bibirku menyeruduk selangkangannya. Puas mempermainkan perasaannya, aku kemudian menarik ke bawah CDnya yang sudah sangat basah itu. Dan waw, lagi-lagi aku berteriak di dalam hatiku. Pemandangan didepanku sungguh sangat indah. Pepeknya berkulit putih bersih. Bulu pepeknya tidak terlalu lebat, belahannya agak kemerah-merahan (mungkin karena terlalu lama aku sruduk tadi). Dari belahan vaginanyaada cairan agak bening mengalir keluar (hm, ini pertanda birahinya sudah klimaks). Kudekatkan wajahku ke belahan pepeknya. Dengan kedua jari telunjuk kanan dan kiri, kukuakkan belahan pepeknya. Tampak lubang vaginanya masih sempit. Dari lubang itu masih nampak cairan bening mengalir (artinya fore play yang aku lakukan terhadap Dayu sangat sukses). Ujung lidahku kemudiah mulai menjilati belahan pepeknya (aku sedikitpun tidak jijik. Apalagi pepek ini milik gadis yang sangat cantik). Tubuh Dayu semakin berkelejotan saja, apalagi ketika ujung lidahku mengutil-util sebiji kacang yang kemerahan sedang berdiri tegang dibagian atas lipatan pepeknya. Kontan saja Dayu berteriak isteris dan pantatnya semakin keatas dan tanpa sadar paha Dayu menjepit kepalaku. Kepala Dayu menggeleng ke kiri dan ke kanan. Ketua telapak tangannya menjambak-jambak rambutku. Rintihannya semakin menyayat antara tangis dan jeritan (sungguh sulit kulukisan keadaan Dayu saat puncak birahi itu). Rambutnya awut-awutan karena ikatan rambut ekor kudanya sudah terlepas karena kepala itu selalu bergoyang kekiri, kekanan bahkan memutar saking tak kuatnya menahan nafsu berahinya. Saat itulah aku merasakan semprotan cairan bening yang sangat deras ke bibirku. "Bapaaaaakkk!", teriaknya. Ah Dayu sudah orgasme. Aku rasakan bibirku penuh cairan pepek Dayu. Agak asin sedikit amis. Tapi aku tidak perduli, langsung saja aku telan. Sementara Dayu tergolek di atas pasir dalam keadaan telanjang bulat. Wow, indahnya pemandangan ini. Bagaikan lukisan gadis cantik di atas pasir. Matanya terpejam dan bibirnya yang indah itu terkatup. Sementara aku belum apa-apa. Aku belum orgasme. Bahkan pakaianku pun belum kubuka. Biarlah, dalam berdinta aku memang seperti ini. Aku tidak ingin langsung tembak keluar sendiri dan cuek dengan keadaan pasangan sex ku. Aku selalu ingin memuaskan mereka sampai orgasme. Bila perlu aku ingin buat lawan sex ku orgasme berkali-kali sebelum aku menyusuk orgasme. Dengan cara ini para wanita dan gadis yang kutiduri pasti akan ketagihan dan selalu merindukan aku. Kudekati wajahku ke selangkangan Dayu, lalu dengan kedua telunjuk kanan dan kiriku, belahan pepek Dayu yang masih becek itu aku kuakkan. Mataku kutujukan ke lubang vaginanya. Saat itu cuaca mulai terang dan sinar matahari menyinari lubang vaginanya. Hm, masih gadis gumamku. Ya Dayu masih perawan. Hal ini ketahui dari selaput daranya yang masih utuh. "Yuk bangun. Pantai mulai ramai. Pakai pakaiannya dan mari kembali ke Hotel" ajakku sambil mengguncang tubuhnya. Setelah memakai pakaiannya, aku menggendeng mesra Dayu kembali ke Hotel. Hm, "olahraga" yang sangat seru di Pantai Senggigi. Saat pelajaran di Aula, aku tidak bisa konsentrasi mendengar nara sumber memberikan materi. Aku masih terbayang kejadian asik di pantai tadi. "Ih Bapak kok melamun dari tadi sih? Lagi mikirin istrinya di rumah ya?" bisik Dayu disampingkau yang membuat aku tersentak. Ada nada cemburu saat mengatakan Dayu mengucapkan "lagi mikirin istri di rumah" (diam-diam aku bangga, hm gadis disebelahku ini sudah takluk kepadaku. Kini tinggal selangkah lagi biar tuntas). "Nggak, justru sedang memikirkan bidadari cantik disampingku", rayuku. "Ih..., dasar!", katanya sambil mencubit lengan kiriku. "Ssst! CDnya sudah dicuci belum", godaku. "Ih! Apaan Bapak ini!" katanya sambil mencubitku makin keras. Malamnya sehabis pelajaran di kelas dan setalah santap malam, aku duduk-duduk sendiri di Kamarku sambil nonton TV (ohya, nampaknya anggaran kegiatan ini cukup besar, buktinya setiap peserta menempati 1 kamar seorang diri. Padahal ini Hotel bintang 4 lho. Jarang-jarang mendapat fasilitas seperti ini). Hm, tak telepon Dayu nih. Sedang apa ya gadis itu. Kupencet nomor HPnya dan.... "Hai sayang, lagi ngapain?", bisikku sangat mesra. "He! Ini Bapak ya. Saya lagi nonton TV. Bapak lagi ngapain?", tanyanya lembut. "Lagi...nglamun", kataku. "Ha? Nglamunin Istrinya ya?", katanya dengan nada suara kurang enak. "Nggak! Lagi nglamunin gadis yang sedang Pak telepon, rayuku. "Ih! Gombal!" "Sumpah!" "Ihhh....Bapak" katanya sangat manja. "Sayang, ntar sekitar jam 1o malam aku ke kamarnya ya. "Iiiiiih, Bapak ini genit ah!" "Ya. Pak lagi genit, Dayu mau ga garukin?" godaku nakal. "Yeeee..., Bapak ini". "Ok, tunggu saja pak dikamar. Ingat jangan kunci kamaenya ya manis....cup-cup aah!", tanpa kuberi menjawab, HP langsung saja kututup. Kini aku yakin Dayu tentu akan resah di kamarnya menanti ke datanganku. Demikianlah cara aku selama ini menjerat seorang gadis. Apalagi gadis masih hijau dalam dunia cinta seperti Dayu ini. Dijamin saat ini sedang klepek-klepek bergulingan di kasurnya dan tidak akan bisa tidur. Tadi sewaktu bermesraan di pantai, sengaja aku tidak tuntaskan dengan hubungan kelamin. Karena aku ingin membuat dia penasaran dan ketagihan. Sebab puncak birahi dari insan yang lagi bercinta pastilah persetubuhan. Selama pelajaran di kelas dari pagi sampai sore, matanya selalu memandang sayu kepadaku. Pandangan mata yang punuh misteri. Di mata itu terkandung rasa terima kasih karena sudah terpuaskan birahinya. Ada juga terkandung rasa ingin mengukangi, rasa ketagihan, ingin dituntaskan dengan penyatuan kelamin kami. Ada rasa cinta, yah campur baurlah semua rasa bernuansa ingin selalu menyatukan diri jiwa raga. Sabar sayang, tunggu ya akan kubuat kamu sampai puaaaaaasss. Tak terasa jam tanganku sudah menujukkan jam 10 malam. Aku bergegas keluar kamar. Kutoleh kanan dan kiri, jam segini Hotel ini sudah sepi. Semua penghuninya ada di kamarnya masing-masing. Beda betul dengan suasana Pantai Kuta di Bali, jam segini pasti ramai bahkan makin malam menjelang pagi pengunjung makin membludak saja. Ya, di Pantai Kuta Bali kehidupan justru dimulai pada malam hari sampai menjelang subuh. Aku sudah sampai di depan kamar Dayu. Sengaja aku tidak hubungi via HP. Hal ini akan membuat dia makin resah menunggu. Makin penasaran, makin rindu...., rindu pingin di...garuk. Kuketok kamarnya pelan-pelan. Terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa (hm, sudah tidak sabar rupanya dia) dan..., pintu kamar pun terbuka. Wow, sang bidadari berdiri dengan anggunnya di depanku. Kali ini dia pakai pakian atasan berlengan pendek sehingga nampak ketiaknya putih bersih sedikitpun tak berbuli. Baju lehernyasetengah lingkaran tanpa kerah, Bahan bajunya dari kain halus tipis warna merah. Samar-samar terlihat branya warna putih. Sementara bawahannya dia hanya mengenakan celana jean sangat pendek sampai dekat sekali dengan..hm..hm..apalagi pinggiran lingkaran kaki celana jeannya itu berumbai-bai, sungguh gadis yang sangat modis dan jelita sekali. Pahanya sangat putih, mengkilap segar dan bercahaya. Bentuknya sangat indah, rasanya bintang sinetron ternamapun pasti kalah cantiknya. Aku menelan ludah berkali-kali. "Ih Bapak ini, kok malah bengong? Masuk dong!" "Ya...ya...ya", wah kamu cantik sekali manisku", setelah dia menutup pintu dan saat kembali ke kamar, aku ikuti dia dari belakang. Tiba-tiba aku sergap tubuhnya dari belakang dan langsung kubopong ke tempat tidur. Dayu menjerit-jerit saat kubopong ke tempat tidur. "He-eh-eh..., manis ini janjiku tadi di pantai untuk membopongmu hehehe!" "Ih, Bapak membuat saya kadet saja", protesnya. Kurebahkan tubuhnya di kasur dan....cuuuppp....mhhhhhh....mmmmmm!", bibir kami sudah saling pagut seru sekali. Setelah puas saling isap dan sedot bibir, jilatanku kuarahkan ke lehernya, kebelakang telinganya, ketengkuknya. Terdengar disisannya persis seperti orang kepedasan habis makan sambal cabai. "Sssshh, ohhhh, aaaahhhh", sekali-kali diselingi pekikan manja penuh birahi saat aku gigit lehernya. Puas dibagian itu, bibirku menjilat ke bawah. Agar lebih leluasa, aku buka buka saja bajunya sekalian BHnya. Seperti juga di pantai tadi, gundukan gunung kembarnya menjadi sasaran bibirku, menyusui, menjilat, menggigit sampai Dayu menjerit dan mendesah. Setelah mengekploitasi buah dadanya, kulanjutkan ke perut dan pusarnya. Lagi-lagi perbuatanku ini membuat dia blingsatan kayak cacing kepanasan. Telujukku menyusup ke celah-celah celana pendeknya dan ku util-util belahan pepeknya meskipun masih terhalang oleh CDnya. Perbuatanku ini membuat Dayu makin menjerit sejadi-jadinya dan aku rasakan ujung jari telunjuk kananku sudah basah. Hm, sudah keluar nih pikirku. Selanjutnya, aku buka Celana pendeknya sekalian CDnya yang sudah becek. Diterangi lampu remang-remang meja hotel kuliahy pepeknya sudah becek. Belahan pepeknya kemerahan karena telunjukku yang nakal terus menggaruknya. Bulu pepeknya yang tipis sangat kacau persis rambut kepala di acak-acak. Aku kuakkan belahan pepeknya dan....lidahku sudah menari-nari di sepanjang belahan pepeknya yang merah itu. Ujung lidahku menjilat dari atas, kemudian balik ke bawah. Kesamping kanan dan kiri. Pantat Dayu sudah terangkat ke atas saking geli pepeknya kuperlakukan seperti itu. "Aaaaaaaawwwwwww!", teriaknya sangat keras ketika ujung lidahku yang kaku meng util-util kelentitnya. Benda ini adalah pusat paling geli di kelamin wanita selain GSpotnya. Bersamaan dengan teriakannya, pahanya menjepit kepalaku dan jari-jemari tangannya meremasi rambutku. Creeet! Cret! Cret! kurasakan kumisku berlepotan cairan bening yang nyemprot dari lubang vaginanya Dayu. "Pak..., saya...., saya...sudah keluar!", katanya terengah-engah. Wow, sebagai lelaki pemuas wanita, kata-kata seperti itu sangat membanggakan aku. Aku merasa sangat jantan karena sudah dapat meng "KO" seorang gadis. "Ini belum apa-apa sayang", kataku bangga. "Tapi...tapi..., saya lemas Pak", katanya lirih. "Ya, kita istirahat sebentar", aku beri dia istirahat sebentar. Aku mememeluk tubuh telanjangnya. Kira-kira sekitar 15 menit, aku membuka semua pakaianku karena saat fore play tadi aku belum sempat membuka pakaianku. Kontolku yang panjangnya sekitar 18 cm mengacung kaku. Ujungnya Botak dan mengkilat berwarna merah tua. "Ihhh!", kudengar jeritan Dayu sambil menutup matanya. Aku tersenyum bangga, sebab ini sebagai pertanda gadis ini benar-benar belum pernah di apa-apakan oleh seorang lelaki. Habis melihat kelamin ku aja sudah menjerit. Mungkin ini pertama kalinya dia melihat pria telanjang bulat di hadapannya. Dan saat ini baru pertama kalinya dia melihat kelamin lawan jenisnya. Aku makin bangga saja, jantungku semakin berdebar-debar saja. Kukukocokkan kontolku sehingga semakin kaku saja. Kemudian aku genggam batang kontolku dan ku bimbing kebelahan paginanya. Ketika Ujung kontolku yang botak ini menyentuh belahan pepek Dayu, ku gerakkan ke atas dan kebawah sambil sedikit kutekan. Pikiran nakalku kemudian mengarahkan ujung kontolku ke kelentitnya yang berdiri. Spontan aja Dayu menjerit pertanda kegelian. "Aaaaw! Pak jangan permainkan perasaan saya. Ooh!" keluhnya. Ok, ujung kontolku semakin kutekan ke lubang pepeknya. Lubang pepek yang masih becek itu memudahkan kontolku melakukan penetrasi dan....JROOOOOSSSSS! Bersamaan pekikan yang keluar dari bibir Dayu, aku rasakan ujung kontolku menembus semacam lapisan tipis agak berlubang dibeberapa tempatnya. Hm, selaput daranya sudah berhasil kurobek, horee! akulah yang berhasil memerawani gadis cantik ini. Wow bangganya. Setelah menarik napas sejenak aku lanjutkan usahaku untuk memasukkan seluruh batang kelaminku ke dalam vagina Dayu. Dan, setelah usaha yang cukup menguras keringat, seluruh batang kontolku sudah tertelan oleh vagina Dayu. Setelah menaruk napas lau kuayunkan pinggangku maju mundur Cret...! cret...! cret...! "Ah, oh!". Suara kamar ini diramaikan oleh desahan dan jeritan kenikmatan dari Dayu. Semua pengalamanku menyetubuhi berbagai wanita dan gadis-gadis kutumpahkan disini. Berbagai gaya aku keluarkan disini, 69, Doggy Style, gaya miring, gendong dsbnya. Setiap aku merubah gaya selalu membuat Dayu terpekik-pekik dan terbelalak-belalak. Selama hubungan kelamin ini terjadi, aku selingi dengan ciuman dan lumatan pada bibir yang indah dari gadis ini. Jilatan dileher yang putih mulus dan jenjang, Isapan dibelakang telinga, isapan di payudara, remasan, plintiran di puting susu, garukan ujung jariku di duburnya. Perlakuanku yang luar biasa ini membuat Dayu sudah 3 kali orgasme. Sedangkan aku masih belum apa-apa. "Ampuun Pak! Aduh Pak, Saya nyerah!", begitu ucapnya disela rintihan dan desahan nikmatnya. Hm, kini saatnya aku tuntaskan permainan ini. Aku rebahkan tubuh Dayu ke Kasur. Aku buka lebar-lebar selangkangannya. Ku naikkan kedua kaki kiri dan kanan Dayu ke pundakku. Ini posisi pamungkas permainan ini. Kugerakkan pinggangku maju mundur dengan cepat...cret-cret-cret, terdengar suara beradunya batang kontolku dengan Vagina Dayu. Suara itu timbul karena lubang pepek Dayu sangat becek cairan orgasmenya memenuhi lubang itu. "Oh...pak, saya...saya mau keluar lagi!", teriaknya. "Aku juga sayang...!", dan kurasakan ujung kontolku disiram air. Ah Dayu sudah orgasme. Maka aku pun tidak menahan lagi dan....creeet! creeet! creeet! Uh banyak sekali spermaku keluar. Kutumpahkan saja di dalam rahimnya. Persetanlah, apa gadis (eh sudah ga gadis lagi) mau hamil atau gimana. Que sera-sera lah. Batang kontolku terasa di urut-urut dan diremas-remas oleh Lubang vaginanya Dayu. Waw, nikmat buanget. Inilah bedanya menyetubuhi gadis dengan menyutubuhi perempuan yang sudah banyak ditiduri lelaki atau istri orang. Rasanya seret dan sempit. Kalau wanita yang sudah sering ditiduri lelaki tentu saja otot vaginanya sudah kendor, mana mampu meremas-remas seperti punyanya Dayu. Setelah semua spermaku tertumpah ke dalam vagina gadis ini, aku pun turun dari tubuhnya dan bergelimpangan di samping tubuhnya. "Bagaimana manis, puas ga?", tanyaku. Dayu memalingkan wajahnya kearah lain. Hm, sudah dol masih juga malu-malu. Aku jadi gemes dibuatnya. Langsung saja kuarik kepalnya dan cuuuup...mmmmmmmhh..hhhhh kukulum dan keisap bibirnya sampai dia gelagapan. Malam itu kami mengulangi perbuatan mesra itu berkali-kali (kalau ga salah sampai 5 kali hingga menjelang subuh. Jam 4 pagi aku kembali ke kamarku. Kutinggalkan Dayu dalam keadaan telanjang bulat. Dia tidur sangat kelelahan). Pagi ketika jam pelajaran dimulai jam 9, kulihat wajah Dayu sangat pucat pasi. Namun demikian, dasar cantik apapun kondisinya tetap saja cantik. Ketika duduk berdampingan di kelas kubisikkan ketelinganya, "Sayang, ada yang kaku di selangkanganku". "Ih Bapak, nanti di dengar orang", katanya sambil mencubit pinggangku. Demikianlah, selama 4 hari work shop, kami selalu melakukan setiap malam. Kini gadis eh, Dayu makin ketagihan saja untuk berbuat itu denganku. Pulang Ke B, setiap hari dia selalu menghubungiku, baik di sms atau di telepon langsun. "Begini aja sayang, jumat depan kan kantor tutup jam 1 siang, bagaimana kalau yayang kujemput saja. Kita menginap di Bdgl. Bdgl adalah tempat wisata terkenal yang ada danaunya. Di pinggir danau itu banyak sekali villa-villa. Aku akan ajak dia nginap disana sampai minggu sore. Dia ragu-ragu dengan alasan ayahnya sangat galak dan otoriter. "Ah kamu terlalu jujur sayang. Bilang saja ada workshop lanjutan dilaksanakan di Bdgl. Aku punya teman di Propinsi, nanti ku atur, dan akan kusuruh dia membuat surat panggilan dengan disertai cap lembaga", jelasku panjang lebar. "Lalu bagaimana tanda tangan pejabatnya?", katanya ragu-ragu. "Hehehe, tenang saja manisku, serahkan saja semua itu kepadaku. Rebes eh, beres. Nanti tanda tangannya tak palsu", bisikku. "Ih, dasar palsu!", ejeknya. "Biar palsu, tapi kamu senang kan sayang?" "Weee...weee!", kalau dia sudah berkata seperti itu aku selalu gemas dibuatnya. "Awas ya tunggu ya!", Ancamku pura-pura. "Awas apa?" "Awas ketemu, kamu tak gigit". "Hi-hik, gigit? apanya digigit?" "Itu tuh yang membuat kamu menjerit-jerit sampai meremas rambutku. Ingat ga waktu di Lombok itu?". "Weeee, ga takut!". "Jelas ga taku, kan kamu ketagihan?" "Weeee...!" hm HP dimatikan. Awas ya kamu sayang. Aku jadi ga sabaran. Ingin waktu berputar cepat agar segera Jumat sore. Sementara Kontolku dari sudah ngeceng pingin cari sasaran tembak. Sabar ya gus, jumat sore kamu tak kasih sasaran tembak kataku sambil meremas-remas kontolku. Demikianlah kisah asmaraku dengan Dayu. Wow, aku sudah sering berselingkuh. Inilah wanita tercantik yang pernak kutiduri. Ah, aku sudah ga sabar lagi. Tunggu ya sayang. Para Pembaca, demikianlah pengalaman temanku ketika mengikuti workshop di Pulau Lombok. Sampai disini dulu ya. Soalnya....aku mau ngintip mereka selingkuh ah.

ABG ML di Warnet

Oleh : ST

Akhir-akhir ini aku suka sekali ke warnet, terutama saja warnat x yang beralamat di jalan NI di tengah Kota Dp Propinsi B dimana aku lahir dan hidup sampai sekarang. Padahal soal internet gratis di kantorku juga ada. Di kantor aku bisa berinternet dari pagi sampai sore. Soalnya di kantorku cuma aku saja yang melek internet dari 17 orang karyawan termasuk pimpinan. Apalagi di kantorku komputer yang terkoneksi internet berjumlah 14 komputer termasuk sebuah laptop. Jadi jauh dari cukup kalau hanya dipakai oleh aku sendiri (temanku yang lainnya termasuk bosku pada gaptek TI. Mereka kalau pakai komputer paling optimal ya hanya untuk menyelesaikan tugas-tugas administrasi seperti ngetik surat-surat atau membuat spj. Itupun hanya menggunakan Ms. Word. Selebihnya ga ada). Nah lebih dari cukup bukan? Tapi dengan kondisi sarana dan prasarana komputer yang cukup memadai itu, aku kok masih suka ke warnet juga?
Pertama, di warnet ramai.
Kedua, di warnet banyak ketemu gadis-gadis cantik.
Ketiga last but not list, nah ini dia, aku dapat ngintip para ABG yang berpasangan ML.
ML di warnet? ya mereka suka ML di warnet dengan pasangannya masing-masing.
Pasangan-pasangan ABG yang ke warnet X ini ternyata bukan sekedar untuk mencari informasi di internet, tapi hampir 90 persen hanya menggunakan bilik-bilik warnet ini untuk ML. Mereka ada yang pelajar SMP dan SMA (ini dapat dilihat dari seragamnya). Warnet x ini memang cukup enak untuk dipakai ML. Bilik-biliknya disesain sedemikian rupa. Klient biasanya duduk lesehan dilantai yang beralasan jok busa yang dibalut dengan kulit tiruan. Ukurannya pas banget untuk 2 orang. Lantainya di karpet. Sementara meja pendek dan monitor pas di depan muka kita. Pokonya asik deh, apalagi ber 2 an dengan pasangan (pacar atau mungkin selingkuhan). Hanya aku saja yang selalu datang ke warnet ini sendirian.
Aku akan selalu pilih bilik faporitku yakni bilik no 6. Sebuah bilik yang paling strategis untuk mengintip pasangan yang ML. Karena aku dapat melihat celah bilik di depanku, juga lubang-lubang angin yang dibuat di depan bawah bilik (kalau yang lubang angin yang di bawah ini aku dapat melihat bagian pusar ke bawah dari pasangan-pasangan ML yang aku intip. Justru bagian ini yang asik dan bikin penasaran. Coba aja, aku dapat melihat si cowoj meraba-raba selangkangan ceweknya. Begitu juga si cewek saat ngocokin "rudal" pasangannnya. Asik kan? Bahkan Aku juga pernah lihat gadis ABG SMP (aku ketahui dari seragamnya) sedang mengulum "rudal" pasangannya, wow asik buanget).
Lain waktu aku lihat sepasang ABG penghuni bilik di depanku sedang asik ML, lakinya jilatin leher ceweknya sampai mata merem melek, kemudian berciuman bibir. Sementara jari-jemari si cowok tak henti-hentinya meremas-remas buah dada ceweknya. Dibalas oleh si cewek dengan meremas-remas slangkangan cowoknya. Meski pun mereka masih berpakaian lengkap, kelihatan banget mereka sudah sangat dikuasai nafsu birahainya. Bahkan saking bernafsunya, mereka sudah tidak menghiraukan sekelilingnya lagi. Buktinya aku yang kemudian timbul rasa jahilku, aku dekati mereka sampai di depan pintu biliknya eh mereka bener-bener lupa daratan. Bener tuh kata orang, kalau sepasang asmarawan lagi mengayuh cinta dunia ini rasanya hanya milik mereka dan orang lain dianggap kost. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala aja (sekarang aku punya ide, aku kan bawa hp kamera. Aku ada ide untuk merekam perbuatan mereka lalu tak pasang di blog ku ini, pasti asik dikonsumsi anda-anda para pembaca yang budiman).
Dari kebiasaanku mengintip ABG ML di warnet ini, berbagai adegan ML dan gaya bercinta sudah pernah aku lihat ; ciuman bibir, jilat leher, jilat tengkuk, ngisap payudara, meremas payudara, ngisap "rudal", ngocokin "rudal", ngocokin vagina, dan banyak lagi gaya ber ML ABG masa kini. Bilik sebelah kira, kanan, depan semua pada goyang kalau lagi ada "konser" ML. Belum lagi terdengar desahan-desahan, rintihan..."Sssshhh....Ohhhhh...ahhhhh !" dan sebagainya. Kadangkala diselingi jeritan sang cewek, waw, kalau sudah begitu situasinya aku sering terhanyut dalam khayalan nafsu dan tak jarang puncaknya aku sampai orgasme sehingga celana dalamku basah disiram spermaku sendiri (makanya aku selalu pakai celana panjang warna hitam sehingga kalau merembes basah keluar tidak akan terlalu tampak. Juga aku tutupi dengan pakaian/Baju atas yang agak panjang dan tidak aku masukin ke dalam celana.
Yah begitulah aku. Aku jadi ketagihan mengintip ABG ML. Kok asik ya, lebih asik dari melakukannya sendiri (soal ML dan "begituan" dengan cewek baik yang masih ABG, STW, baik yang masih singel, pacar orang, pacar temen bahkan istri orangpun sudah biasa aku lakukan). Aku ga tahu, apa ini kelainan jiwa? Ah persetan lah dengan kelainan jiwa atau apa pun namanya yang jelas kebiasaan ngintip itu tetap aku lakukan sampai sekarang. Bahkan saat cerita ini aku tulis, di sebelah-menyebelah bilik warnet ini lagi seru-serunya pasangan ABG yang lagi ML. Tuh bilik-bilknya pada bergoyang seperti ada gempa saja. Sekian dulu kisah ini ya, ssst aku mau ke toilet dulu nih soalnya "rudal" milikku juga mau ngecret. Doain ya biar lancar ngecretnya.

Senin, 29 Juni 2009

NGENTOT DENGAN SPG



Oleh : NN



Pada kisahku yang lalu, aku ceritakan pengalaman hidupku dalam bidang sex masa kanak-kanakkanakku. Kali ini akan kukisahkan pengalaman sex ku beberapa bulan yang lalu dengan seorang SPG.

Namaku Dony. Saat ini usiaku menginjak kepala 4 tepatnya 40 tahun. Saat ini aku bekerja di sebuah perusahan swasta di kotaku yakni Kota D di Propinsi B. Jadi aku masih tinggal di kota yang sama ketika pengalaman sex ku waktu masih kanak-kanak. Dan aku masih tinggal di Desa yang sama saat kejadian sex masa kecilku. Hanya saja aku tidak tinggal di losmen itu lagi, tapi disebelah losme itu kira-kira 100 meter.

Baiklah, kumulai saja pengalaman sex ku yang baru saja terjadi beberapa bulan yang lalu.

Saat itu pertengahan bulan Oktober tahun 2008 (hari, tanggal tepatnya aku tidak ingat, maklum aku tidak suka menulis buku harian. Apalagi daya ingatku sudah agak menurun).

Hari itu tidak biasanya aku duduk di kursi meja kerja temanku yang paling depan dan langsung beradapan dengan pintu keluar. Saat itu kantorku ramai kedatangan klien yang berhubungan dengan kantorku. Tugasku sendiri saat itu tidak banyak sehingga aku agak santai.

Saat itu dari pintu depan masuk seorang gadis belia berumur kira-kira 18 tahun. Pakaian atasnya adalah kaus berwarna pink. Tapi yang pertama dilihat oleh mataku adalah selangkangannya. Gadis ini pakai celana panjang selutut agak ketat dengan bahan yang agak lentur sehingga mencetak bentuk tubuhnya. Tentu mataku yang nakal ini tertuju keselangkangannya karena bentuk pepeknya tercetak jelas saking ketatnya celana tersebut.

"Pagi Oom, saya menawarkan barang-barang ini", katanya ramah.

Oh, seorang SPG (Sales Promotion Girl) rupanya.

"Ya, ada apa?", aku pikir salah seorang klient yang ada hubungan bisnis dengan kantorku, eh ternyata SPG.

"Ini Oom saya jual sepatu, ada juga dompet dan tas untuk istrinya", katanya ngoceh disertai senyuman manis khas seorang SPG. Kutatap wajahnya kemudian ke bawah dan akhirnya keseluruh tubuhnya. Hm, manis juga gadis ini meski kulitnya sangat hitam, tapi bibir itu sangat sensual.

Tanpa kupersilahkan gadis itu langsung saja duduk di kursi kosong depan mejaku. Aku disodori buku-buku yang berisi contoh-contoh gambar dompet, sepatu, tas wanita dan pernik-pernik perhiasan lainnya.

Aku buka-buka buku itu, dan aku tertarik dengan sebuah dompet.

"Wah dompet ini bagus, berapa harganya?"

"Oo, kalau yang itu 250.000 Oom"

"Wah mahal buanget, ga bisa kurang"

"Itu kulit asli Oom".

"Kurangi harganya ya, atau....hm, di tambah bonus mik ya", entah kenapa tiba-tiba aku mengeluarkan kata-kata nakal seperti itu. Mik artinya kecupan di pipi (bisa juga cium bibir).

Kontan saja SPG yang masih ABG itu tersipu-sipu malu. Namun demikian membuat wajahnya makin menarik aja. Pipinya merah, matanya melirik penuh misteri.

"Gimana?" desakku.

"Beli dulu dompetnya Oom"

"Wah, itu artinya kalau dibeli jadi dapat bonus ITU ya" serangku.

Dia hanya tersenyum aja. "Ok. senyum berarti mau. Kalau gitu aku pesan dompet yang ini", kataku sambil menunjuk gambar dompet. Kemudian dia menulis di nota dan menyodorkan ke padaku.

"DP sepertiga harga dulu Oom!"

"Lho barangnya mana?"

"Barangnya lagi 2 hari Oom"

"Lho jadi kamu kesini ga bawa barang? hanya buku ini saja?"

"Ya Om"

Setelah aku bayar DP gadis itu pun menyerahkan faktur DP kepadaku, setelah itu dia pun pergi.

2 hari kemudian, sesuai janji dia datang ke kantorku membawa dompet pesananku. Sayang saat itu kantorku ramai buanget dengan klient-klient yang berurusan bisnis dengan kantorku.

"Ssst jadi ga bonusnya?" tanyaku. SPG itu hanya tersenyum.

"Tapi disini rame Oon" bisiknya. Horeeee, ini artinya dia mau (kalau tidak mau tentu dia akan ngloyor pergi dan tidak melayani kata-kata isengku. Ini pengalamanku dengan berbagai tipe dan karakter cewek).

"Begini saja, besok kamu kesini jam 3 sore ya. Besok jumat kantorku tutup jam 1 siang, mau ya. SSt tapi kamu jangan bawa teman", kataku. Karena aku lihat dia membawa teman SPG lain yang agak gendut.

"Tapi Oom..."

"Sudah, kalau mau aku akan pesan sepatu lagi ke kamu".

"Beli sepatu Oom? baik besok saya kesini jam 3 sore" katanya dengan senang.

Hari jumat sore sekitar jam 3 aku dengar sepeda motor Mio berhenti di depan kantorku. Ketika keluar, aku lihat si SPG itu berdiri di depan pintu kantorku. Kali ini penampilannya lebih modis dari pada pertemuan pertama. Rambutnya di urai agak basah. Wajahnya sungguh segar. T-Shirt merah jambon agak ketat dan pusernya kelihatnya. Pakai celana jean sebatas lutut.

"Sori Oom lama nunggu ya? tadi saya ke salon dulu O0m" katanya. Waw aku merasa tersanjung.

"Sini cepat!" kataku sambil menarik lengannya. Aku sudah nafsu buanget. Kuseret dia ke ruang tamu. Aku tutup dan kunci pintu. Begitu juga gordinnya aku tutup juga. Pak Waker sudah aku suruh pergi ke belakang. Saat ini semua karyawan sudah pulang. Jadi kantorku sangat sepi.

Begitu semua tertutup, aku peluk dia dan...cuuuup mulutnya aku serbu, aku kulum, aku isap...hmmm...lembutnya mulut ABG yang masih berumur 18 tahun (ini aku ketahui kemudian setelah aku minta KTPnya dan namanya Sisca Septiari).

Setelah berciuman, tanganku tak tinggal diam. Sambil menyeret tubuhnya rebah ke jok kursi tamu, tangannku terus meremas buah dadanya yang masih padat. Selanjutnya bergerilya sampai ke selangkangannya dan menyusup ke lobang vaginanya.

"Aaaahhh...sssshhhh....Ooomm...hhhh...aku...aku...sudah ga perawan lagi Oom!" bisiknya diantara desahannya. Rupanya sebelum aku bertanya dia sudah ngaku duluan. Ya jelas ga perawan, habis tiga jariku semua amblas masuk vaginanya. Kalau perawan, satu jari aja sudah agak sempit.

"Ga soal kok, Oom bukan orang fanatik dengan perawan, yang penting ada lobangnya".

"Ih Oom Nakal ah!"

Aku lucuti, pakaiannya semua setelah aku telanjangi diriku.

:Tapi Oom...jadi ga beli sepatu?"

"jadi !" teriakku. Uh ini anak apa ga tahu aku lagi nafsu buanget.

".....tapi yang begituan ga boleh Oom".

"Sudah...nih !" kubuka dompetku, aku sodorkan 6 lembar uang seratusan ribu.

"Ini ambil jangan cerewet...Oom sudah ga tahan!" bentakku. Aku kangkangkan pahanya. Wow, pepeknya meskipun hitam tapi belahannya merah merekah. Aku dekatkat bibirku ke belahan pepeknya dan.....wajahku terbenam disana. Aku dengar jeritannya sangat histeris buanget. Aku tidak perduli. Kumisku berlepotan lendir yang membanjir yang keluar dari lubang pepeknya.

"Oh Oom ampun Oom...ahhh...aduuuhhhh...geli Oom. Jangan siksa perasaan aku Oom", teriaknya.

Setelah puas dengan fore play seperti itu. Kontolku yang besar mengacung ini ku hujamkan ke lobang pepeknya....Jerooossss!

Selanjutnya aku pompa naik turun berirama. Berbagai posisi aku coba, gaya nungging, 69, gendong dan berbagai posisi yang belum pernah dialami si ABG SPG ini dengan pacarnya.

Setelah 30 menit, kami terkapar di ruang tamu kantorku bersimbah keringat.

"Gimana sayang? Puas ga?" tanyaku.

Dia tersipu malu.

"Pernah main dengan gaya-gaya yang kita coba tadi?" tanyaku.

"Ga Oom, pacarku kalau main langsung tembak aja!"

"Ha, kamu puas?"

"Ga pernah Oom"

"Kalau dengan Oom gimana?"

"Oom sungguh hebat !" pujinya.

Mulai saat itu aku selalu ngesex dengan SPG itu. Bahkan aku sering main di ruang-ruang kantorku, di atas meja teman, meja aku, bahkan yang paling kurang ajar ya di meja pak Meneger.

Aku selalu kenalkan dengan berbagai gaya baru. Seperti aku gendong dia keliling ruangan sementara tubuhnya bergelayut di pinggangku dan tangannya memeluk leherku, susunya nempel di dadaku yang berbulu lebat, sedangkan kontolku masuk ke lubang pepeknya. Wah pokonya asik deh. Tentu pengalaman tak terlupakan oleh SPG itu selama bercinta denganku.

Sampai aklhirnya pertengahan bulam Mei 2009 lalu dia tak lagi pernah mendatangiku. Aku sudah telepon ke HPnya, bahkan ke Kantornya, tapi tidak bisa dihubungi. Kantornya bilang si Sisca sudah berhenti bekerja disana. Oh suatu pengalaman yang asik dengan SPG ABG yang berkulit hitam manis. Sisca, dimanakah kamu sayang, Oom rindu buanget dengan kamu. Terutama sekali dengan pepekmu yang berlubang sempit dan pandai mengemot-ngemot rudal Oom. Sisca, Oom selalu menantimu.

GAIRAH NAKAL
















Oleh : NN




Namaku Sy. Saat ini aku bekerja di sebuah perusahan swasta di tempat kelahiranku yakni kota D. Aku memang asli penduduk Kota itu. Bahkan leluhurku adalah salah satu kerajaan yang pernah berkuasa di kota ini pada masa lalu. Jadi aku adalah orang yang berdarah biru tapi kelakuanku sendiri seperti kolor ijo.


Aku adalah 4 bersaudara, 3 laki-laki dan hanya kakakku yang nomor 1 saja wanita. Sejak kecil (entah umur berapa, yang jelas kuingat sejak aku duduk di kls 1 SD) aku hidup berpisah dari ortuku. Aku tinggal dengan 2 orang bibiku (adik ayahku), bibi yang tua an sudah kawin sedangkan bibiku yang mudaan janda karena cerai dengan suaminya. Bersama kami juga ikut suami bibiku yang tuaan (masih ada hubungan keluarga). Aku tinggal dirumah milik keluarga besarku yang letaknya hanya kurang lebih 500 meter dari rumah tempat tinggal ortuku. Rumah ini adalah sebuah losmen tapi yang menempati adalah beberapa orang keluarga tentara.


Baiklah, biar tidak bertele-tele kumulai aja kisahku dari tempat ini. Di lingkungan losmen ini dimana keluarga tentara banyak anak-anak seusiaku. Ohya kejadiannya sekitar tahun 75 an saat itu usiaku sudah 13 tahun. Setiap hari setelah sekolah kami selalu bermain sebagaimana layaknya anak-anak. Saat itu permainan tentu tidak secanggih saat ini yang serba elektronik seperti Play Station (PS). Kita mainnya permainan tradisional seperti kelereng, petak umpet dsbnya. Kami berbaur bermain antara cewek dan cowok. Nah disinilah persoalannya. Aku masih ingat, seusia belia itu nafsu birahiku sudah menggebu-gebu. Aku selalu nafsu setiap melihat gadis terutama gadis seusiaku atau yang lebih muda. Nah saat main petak umpet dan saat sembunyi di semak-semak (saat itu masih banyak ada tegalan kosong yang banyak semaknya) bersama teman bermain putri, aku pergunakan kesempatan meraba-raba tubuhnya. Awalnya para gadis kecil itu berontak, tapi denganberbagai bujuk rayu akhirnya aku dapat juga membuka celana dalamnya dan meraba-raba kelaminnya dan buah dadanya yang baru sebesar buah jambu.


Pada suatu hari aku lihat Zuriah sedang berjalan sendirian. Zuriah adalah anak pemilik rumah makan padang yang juga kost di losmen keluargaku. Zuriah adalah gadis paling cantik dari seluruh penghuni losmen. Dia baru kelas 6 SD sedangkan aku kelas 1 SMP. Zuriah lebih muda setahun dari padaku. Aku hampiri dia dan bertanya, "Eh Zur kamu dari mana sih?"


"Aku disuruh beli bumbu oleh Ibu", jawabnya. Memang kulihat ada bungkusan di tangannya.


"Zur kamu mau ga ke kebun di belakan sana, sekarang banyak lho ada jambu", kataku sambil menunjuk kesebuah tegalan yakni sebuah kebun milik tetanggaku. Kulihat matanya bersinar, "Ah, jambu? Aku mau. Tunggu ya, aku bawa bumbu ini ke Ibu dulu", dia pun lari-lari kecil membawa bumbu pesanan Ibunya.


Sementara menunggu kedatangan Zuriah, dadaku berdebar-debar membayangan kenikmatan yang akan aku rasakan. Di otakku berputar berbagai akal dan rencana untuk mencabuli si Zuriah.


Tak lama kemudian Zuriah sudah muncul di depanku. Dia masih berpakaian seperti tadi. Pakaian atas pakai T-Shirt putih tipis sehingga bayang-bayang puting susunya kelihatan. Sedangkan bawahan pakai rok biru sebatas lutut. Hm, dengan pakai rok kayak begini rencanaku akan lebih lancar lagi.


"Hai kak jadi ga? Kok Bengong?" teriaknya membuyarkan lamunanku.


"Ohya tentu, ayo!" aku menarik tangannya menuju kebun.


"Nah, sekarang kamu yang manjat duluan".


"Tapi aku kan wanita, kamu aja kak aku nunggu dibawah".


"Nggak ah, kamu coba aja nanti tak gendong atau dorong dari bawah".


"Betul ya kamu mau mendorong".


"Ya !" Jawabku sambil berdebar-debar. Inilah rencana yang kuinginkan. Kemudian Zuriah menaikkan kaki sebelah kanannya ke batang pohon. Saat itulah aku berdiri di depannya. Begitu lugunya dia dan tanpa curiga melihat aku berdiri di depannya. Sedangkan mataku melotot melihat ke selangkangannya yang menganga. Terlihat CDnya agak terkuak, dari celah-celah CDnya yang agak longga aku dapat melihat belahan kelaminnya. Ah putuh bersih seperti kulitnya yang halus dan pada belahannya agak kemerah-merahan. Karuan saja nafsuku meledak sampai ke ubun-ubun.


"Lho kakak kok bengong? Jadi ga menumpu aku?" Protes Zur.


"Ooo ya ya", Aku buru-buru mendekatinya lalu telapak tangan kananku kuarahkan keselangkangannya dan jari telunjukku menyisip di sela-sela CDnya. Sementara tangan kiriku memeluk pinggangnya dengan erat. Kurasakan jariku terjepit diantara belahan daging lembut yang agak basah....


"Aw...aw...aaawwww.....hiiiihhh...hik...hik...hik...hik...aduh kak geliiiiii !", kudengar teriakkannya sambil tubuhnya mengelinjang-gelinjang.


Tubuh kami pun rebah ke semak-semak di bawah pohon jambu. Kami tak jadi memanjat pohon jambu. malah kini tubuhkami berhimpitan.


Tubuh Zuriah masih dalam pelukannku sedangkan jariku masih terjepit diantara belahan pepeknya yang lembut. Dengan nakal jari telunjukku kubenamkan semakin dalam. Aku temukan tonjolkan daging sebesar biji kacang hijau. Ku urut-urut dan kupelintir biji tersebut. Reaksi dari Zuriah tubuhnya makin menggelinjang dan dari mulutnya terdengar kikikan kegelian.


"Sssst...ahhhh....sssssshhhh...aadduh kak ssshhh geliiii...!"


"Diam Zur, enak kok" Jawabku.


"Tapi...tapi...gimana kalau ada yang lihat?"


"Jangan khawatir tempat ini sepi"


"Tapi aku takut".


"Taku apa?'


Zur tidak bisa menjawab, mungkin dia bingung. Dia tidak tahu, apa yang sedang dia alami. Ada rasa geli tapi juga rasa nikmat ketika kelaminnya aku obok-obok. Tubuhnya yang menggelinjang-gelinjang saking gelinya aku kunci dengan pelukan yang erat.


"Kak aku..., aku....mau pipis..." katanya dengan wajah merah agak malu-malu.


"Keluarin aja ga usah ditahan-tahan" bisikku ditelinga sambil menjilat daun telinga dan dilanjutkan dengan mengisap tenggkuknya yang putih mulus dengan bulu-bulu halus sangat merangsang.


"Aaaaa...ka..kak...aaa...aaku..ahh!" terdengar jeritannya disertai tubuhnya mengejang. Aku rasakan jari telunjukku basah berlepotan lendir. Waktu itu aku tidak tahu apa nama cairan itu. Kini setelah dewasa aku baru tahu apa nama cairan itu.


Tubuh Zuriah lemas setelah mengalami orgasme. Ini adalah orgasme pertama yang dia alami semenjak dia jadi manusia.


"Zur, kamu jangan bilang-bilang sama siapa pun ya apa yang sudah kita lakukan disini. Terutama sekali jangan bilang dengan Bapak Ibumu, mau?"


"Ya kak, aku...aku...malu!" katanya tersipu-sipu. Wajahnya sangat cantik waktu bilang begitu, apalagi disertai senyum malu-malu. Aku gemas melihatnya dan........"Cuuuup...mmmmhhhh....mmmm!" kucium bibirnya yang manis dan sangat indah itu. Lama-lama dia membalas. Kami pun saling pagut. Secara alami dan naluriah tanpa ada yang mengajari, lidah kami pun saling belit ah indahnya.


Ah sungguh pengalaman yang sangat indah dan menyenangkan. Aku lihat CD si Zur basah kuyup ternoda lendir.


"Eh Zur entar kamu cuci celana dalam kamu ya, tapi nyucinya sembunyi-sembunyi jangan sampai katahuan Bapak Ibumu".


"Ya kak" katanya lugu.


"Ingat ya, jangan se kali-kali bilang sama siapa pun apa yang sudah kita lakukan di kebun ini".


"Ya kak"


"Janji !"


"Janji !"


Sejak kejadian itu, aku dan Zuriah sering melakukan perbuatan terlarang itu secara sembunyi-sembunyi. Kami lakukan di kebun tetangga, di gudang belakang losmen, juga pernah di bak truk tentara yang sedang parkir di halaman rumah (waktu malam hari jam 20.00 wita).


Kami sebatas main luar yang zaman sekarang disebut ML. Burungku tak sampai penetrasi ke vaginanya si Zuriah. Aku suka jilati pepek dia, menggit kelentit dia sampai menjerit dan dia orgasme. Burungku pun sering di isap dan dikulum oleh mulut dengan bibirnya yang indah.


Perbuatan ini kami lakukan hampir 2 tahun tanpa pernah kentara sekalipun. Barulah berakhir ketika keluarga Zuriah pindah kost dari losmen keluargaku. Mereka pulang kampung ke Sumatera Barat sana. Zuriah oh Zuriah gadis minang yang cantik jelita.


Demikian sedikit pengalamanku bernafsu birahi ria. Sejak SD sampai sekarang sudah berumah tangga, nafsu sex ku tak juga surut-surut bahkan makin menjadi-jadi aja. Sudah banyak pengalaman nge-sex dengan gadis-gadis, janda-janda, istri teman, istri orang, gadis nakal. Pokoknya asal wanita yang masih punya kelamin, aku buru sampai dapat dan tiduri.


Baiklah para pembaca, kisah ini hanyalah sebagian kecil dari kisah nyata perjalanan hidupku dalam dunia perkelaminan. Lain kali kalau ada waktu, akan aku tuliskan bagaimana pengalamanku selingkuh dengan teman kantorku, pacar temanku, istri temanku dll. Tunggu saja serial kisah sex ku yang seru. Dijamin dapat memuaskan para pembaca penggemar kisah-kisah panas. Sampai jumpa.